Kali ini aku bersama ketiga temanku berkesempatan mengunjungi beberapa tempat epic di tanah Jawa. Sebuah cerita yang takkan kami lupakan, bahkan sampai nyawa terpisah dari badan.
HARI PERTAMA
Jumat (28/1/2011) - Pagi yang dingin masih menyelimuti Kabupaten Bogor. Tepat pukul 07.00 WIB, kedua sahabatku, Adit dan Afri telah tiba menjemputku di rumah. Sebelum kepada inti tulisan ini, akan kukenalkan dulu kalian kepada dua temanku ini. Mereka adalah sahabat dekatku sejak SMA. Kami tergabung dalam band inti sekolah, namanya Sersan Band. Adit pemain drum, sedangkan afri pemain gitar. Akupun pemain gitar. Band kami sering mengikuti festival antar sekolah. Lagu kami pernah menempati posisi ke tujuh se-DKI dan sekitarnya pada festival cipta lagu yang diadakan stasiun televisi kabel Astro pada November 2007. Hingga kini kami masih sering menyempatkan waktu untuk bertemu walaupun kami kuliah di kota yang berbeda. Adit di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, sedangkan Afri kuliah di Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto.
Hari itu kami akan berlibur ke purwokerto, tempat Afri kuliah dan kos. Sebelum ke Purwokerto, mereka mengantarku menghadiri workshop terlebih dahulu di kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya di Harmoni, Jakarta Pusat.
Siang itu Jakarta sangat terik. Sekitar pukul 11.30 WIB acara pelatihan citizen journalism di kantor PWI berakhir. Aku keluar ruangan menuju masjid yang terletak satu lantai dengan kantor PWI untuk menunaikan shalat Jumat. Adit dan Afri sudah menunggu di sana.
Seusai shalat Jumat, dengan mengendarai Honda Jazz hitam milik Afri kami meninggalkan kantor PWI Jaya. Rencananya kami akan menjemput Reza, sahabat kami yang kuliah dan kos di Bandung. Ia juga personel band kami, pemain bass. Institut Manajemen Telkom Bandung menjadi pilihannya menggantungkan cita-cita. Namun, sebelum menuju Bandung, kami menyempatkan makan siang di sekitar Jl. Gajah Mada, Jakpus.
Setelah makan, kami langsung menuju Bandung lewat tol Cipularang (Cikampek-Purwakarta-Padalarang). Selang tiga jam kemudian, kami sampai di rumah kos Reza. Sesampainya kami di sana, Reza langsung mengambil barang-barangnya yang telah disiapkan untuk dibawa.
Gerimis menyelimuti kota Bandung sore itu. Kami berangkat menuju Jawa Tengah melalui jalur selatan. Setelah melewati Tasikmalaya dan Ciamis, kami tiba di perbatasan antara Provinsi Jawa Barat dengan Jawa Tengah sekitar pukul 20.55 WIB. Di perbatasan itu, aku melihat perbedaan yang sangat kontras, kondisi jalan di Jawa Barat sangat baik dengan penerangan yang memadai sedangkan kondisi jalan di Jawa Tengah berlubang tanpa adanya penerangan jalan sama sekali.
Perjalanan malam itu kami lalui di tengah guyuran hujan. Kami memasuki Kabupaten Banyumas -tempat Purwokerto berada- sekitar pukul 22 lebih sembilan menit. Menurut informasi yang kuterima dari Afri, Purwokerto adalah semacam ibukota Kabupaten Banyumas. Kondisi jalan saat itu dipenuhi genangan air.
Sekitar pukul 23.30 WIB, kami tiba di Purwokerto. Karena perut kami sangat lapar, kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Akhirnya Afri mengajak makan di angkringan, tempat makan khas daerah-daerah Jawa Tengah. Angkringan adalah tempat makan di pinggir jalan dengan tikar atau karpet sebagai alas duduknya. Di angkringan, pembeli mengambil sendiri makanan yang diinginkannya.
Aku makan mendoan dengan lontong disiram bumbu kacang. Mendoan adalah makanan khas Purwokerto. Namun, saat ini mendoan sudah banyak ditemui di berbagai daerah terutama di Jawa Tengah. Terbuat dari potongan tipis tempe dibalut tepung terigu menjadikan mendoan sangat nikmat ketika disajikan selagi panas. Di tambah segelas susu jahe, kehangatan suasana malam itu tak terbayangkan. Perutku terisi penuh dengan hanya Rp. 9 ribu. Seusai makan malam, kami menuju rumah kos Afri untuk beristirahat.
HARI KEDUA
Sabtu (29/1/2011) - Ternyata pagi di Purwokerto tak sedingin yang kubayangkan. Pukul 08.00 WIB, kami bergegas untuk sarapan. Afri mengajak makan sega jamblang (baca: nasi jamblang), yakni nasi beserta lauk pauk yang diletakkan di atas daun jati. Menuku pagi itu nasi, paru goreng, mendoan, kuah sayur, sambal dan teh hangat. Harganya Rp. 8 ribu. Mungkin paru goreng yang membuatnya sedikit mahal.
Seusai makan, kami berangkat menuju Dataran Tinggi Dieng di Wonosobo. Daerah yang terkenal dengan keindahan alamnya. Sepanjang perjalanan menuju Dieng, sisi kanan dan kiri jalan didominasi oleh pemandangan persawahan. Jarak pandang pun sedikit terganggu akibat kabut. Butuh waktu sekitar empat jam untuk tiba di Dieng. Setelah sampai, kami membeli tiket masuk terusan -beberapa obyek wisata- seharga Rp. 12 ribu per orang.
| Masjid Jami Baiturrohman, Dieng, Wonosobo |
| Telaga Warna, Dieng |
Setelah film selesai, kami kembali masuk ke mobil untuk menuju obyek wisata Dieng lainnya, Kawah Sikidang. Karena saat itu hujan, kami hanya berfoto sebentar di kawah itu dan memutuskan kembali ke Purwokerto. Sebelum Pulang, kami membeli kentang di pasar kecil sekitar kawah sebagai oleh-oleh dan untuk makan malam. Kentang adalah komoditas utama Dieng. Daerah ini adalah salah satu pemasok kentang dengan kualitas terbaik di Indonesia. Satu kilogram kentang dihargai Rp. 5 ribu.
Dalam perjalanan pulang, kami berhenti di Alun-Alun Wonosobo. Di sana kami mencoba makanan dan minuman khas daerah tersebut, mie ongklok dan es dawet cau. Mie ongklok adalah mie yang disiram dengan tepung kanji yang dicairkan dan sudah diberi bumbu. Selain itu, mie ongklok juga dilengkapi dengan sate ayam. Rasanya manis, pedas, dan asin. Satu porsi dibandrol Rp. 9 ribu. Sedangkan es dawet cau adalah gabungan antara es dawet yang sering kita temui dengan cincau. Hanganya Rp. 2.500 per gelas.
| Menikmati mie ongklok dan es dawet cau di Alun-Alun Wonosobo |
HARI KETIGA
Minggu (30/1/2011) - Seperti hari sebelumnya, hari itu kami mulai dengan sarapan sega jamblang. Usai sarapan, kami berangkat ke lokawisata Baturraden. Perjalanan ditempuh sekitar 20 menit dari tempat kos Afri dengan jalur lurus menanjak. Baturraden terletak di kaki Gunung Slamet. Sebenarnya banyak tempat yang bisa dikunjungi di dalam area Baturraden, namun karena kurangnya informasi, kami hanya mengunjungi beberapa saja.
Dengan tiket masuk seharga Rp. 7.500, kami menikmati keindahan alam Baturraden. Kami istirahat sembari berfoto di dekat air terjun dengan ketinggian sekitar 10 meter. Di atas air terjun tersebut, terdapat sebuah jembatan yang sempat runtuh dan memakan korban jiwa beberapa tahun lalu. Sekarang, jembatan itu sudah dibuat permanen yang sebelumnya hanya jembatan gantung.
| Salah satu spot di Baturraden, Purwokerto |
Sebenarnya, tujuan utama kami di Baturraden adalah Pancuran 7 dan Gua Sara Badak. Namun, karena lokasinya cukup jauh dan harus membayar tiket masuk lagi, kami mengurungkan niat. Pancuran 7 adalah semacam pancuran air panas yang berjumlah tujuh dengan kandungan belerang dari Gunung Slamet. Belerang dari Pancuran 7 diperaya bisa mengobati penyakit kulit. Sedangkan Gua Sara Badak adalah gua di kaki Gunung Slamet yang memancarkan keindahan tersendiri. Stalagmit dan stalagtit gua dilapisi belerang sehingga terlihat seperti air mendidih yang berwarna kuning keemasan.
Karena kami batal mengunjungi Pancuran 7 dan Gua Sara Badak, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke rumah kos Afri untuk beristirahat. Namun, sebelum pulang aku menyempatkan membeli tanaman hias untuk ayahku yang dijual di sekitar Baturraden. Ayahku memang sangat hobi dengan tanaman hias. Aku membeli satu pot tanaman bromilia dengan warna merah marun dengan aksen coklat seharga Rp. 10 ribu, satu pot sansiviera (lidah mertua) hijau dengan aksen kuning seharga Rp. 10 ribu dan satu pot Bambu Kodok dengan harga Rp. 20 ribu. Tanaman yang menurutku paling unik adalah Bambu Kodok, sebab aku belum pernah melihatnya. Tampilannya sekilas mirip dengan bambu hias yang sering kita jumpai. Hijau, berdaun kecil. Namun ada yang unik pada batangnya. Setiap buku pada batangnya mengembung seperti tubuh kodok. Usai membeli tanaman hias, kami langsung menuju rumah kos Afri untuk beristirahat.
Sore harinya, kami jalan-jalan ke komplek UNSOED. Di sana, Afri menjelaskan banyak hal. Kami menghabiskan waktu untuk berfoto. Malam harinya kami berangkat lagi untuk makan di angkringan. Lokasi angkringan ini berbeda dengan angkringan yang kami kunjungi sebelumnya walaupun agak berdekatan. Aku makan dengan menu nasi kuning, tahu bacem, bakwan goreng dan sate telur puyuh. Aku tak menyangka, dengan menu tersebut aku hanya mengeluarkan uang Rp. 3.400. Aneh pikirku. Karena di Jakarta, jika aku membeli makanan di sekitar kampus, hanya dengan menu usus ayam pedas + gorengan + es teh manis bisa diberi harga Rp. 7.500. Aku tak mengerti dengan sistem pengambilan laba para pedagang makanan angkringan di Purwokerto, padahal saat ini sembako sedang mengalami kenaikan harga.
Usai makan, kami kembali ke rumah kos untuk beristirahat. Malam itu memang benar-benar kami prioritaskan untuk beristirahat, karena esok harinya kami akan bergegas meninggalkan Purwokerto.
HARI KEEMPAT
Senin (31/1/2011) – Pagi itu kami sarapan mie rebus + kentang goreng + telur goreng. Seusai sarapan, sekitar pukul 07.45 WIB kami meninggalkan Purwokerto. Tujuan kami selanjutnya adalah Kota Cilacap, kota asal keluarga Afri. Di Cilacap kami akan mengunjungi Pantai Teluk Penyu serta benteng peninggalan Belanda di Kepulauan Nusakambangan.
Mobil bergerak menuju Sokaraja untuk membeli oleh-oleh khas Purwokerto terlebih dahulu, getuk goreng. Gtetuk goreng berbahan dasar singkong yang dihaluskan dan dicampur dengan gula jawa dan tepung yang kemudian dipotong kecil-kecil lalu digoreng. Harga getuk goreng Rp. 18 ribu per kilogram. Seusai membeli oleh-oleh, kami melanjutkan perjalanan.
Di sela-sela perjalanan, kami tertarik ketika melihat bendungan gerak di Sungai Serayu sehingga kami memutuskan berhenti terlebih dahulu untuk sekadar berfoto dan melepas penat. Di atas bendungan terdapat sebuah jalan kecil yang biasa dilalui penduduk sekitar untuk mencapai desa yang berseberangan. Biasanya penduduk menggunakan sepeda motor untuk menyeberang karena jaraknya yang relatif jauh. Di jalan setapak tersebut, kami berfoto dan sesekali memerhatikan sistem kerja bendungan tersebut. Aku dibuat takjub oleh kekuatan bendungan tersebut yang mampu menahan beban air jutaan meter kubik.
Setelah puas berfoto di bendungan, kami kembali melanjutkan perjalanan. Ketika memasuki Kota Cilacap, kami melihat korban kecelakaan sepeda motor di pinggir jalan. Darah di mana-mana, helm yang dikenakan korban remuk seperti botol air mineral diremas. Namun, karena lokasi kecelakaan sudah penuh dengan kerumunan, kami pun berlalu. Tepat pukul 11.00 WIB, kami tiba di Teluk Penyu. Kami pun langsung memarkir mobil untuk kemudian menuju tepi pantai. Lagi-lagi kami menghabiskan waktu untuk berfoto. Lalu kami berjalan agak menjorok ke tengah laut di atas sebuah jembatan semacam penahan abrasi. Reza yang takut ketinggian sempat kelimpungan ketika kami mengajaknya untuk ikut berjalan di atas jembatan tersebut. Namun, lama-kelamaan ia pun bisa menguasai keadaan.
Puas bersantai di jembatan, kami kembali ke tepi pantai. Kami memesan dua buah kelapa muda yang di dalamnya diberi es. Untuk meminumnya memang tidak menggunakan gelas, namun langsung pada buah kelapa yang telah dikupas atasnya. Harganya Rp. 5 ribu per buah. Setelah dahaga hilang, kami shalat terlebih dahulu di masjid komplek Benteng Pendem yang berada di dekat pantai. Disebut Benteng Pendem sebab masyarakat sekitar mempercayai bahwa terdapat sebuah terowongan dibawah benteng tersebut yang terhubung dengan Pulau Nusakambangan melalui bawah laut.
| Benteng Pendem, Cilacap |
Seusai shalat kami memutuskan untuk menyeberang ke Pulau Nusakambangan dengan menggunakan perahu motor. Kami berpikir, sayang sekali bila kami tidak mengunjungi Nusakambangan. Setelah tawar menawar, akhirnya dengan Rp. 15 ribu per orang untuk pergi pulang, kami menyeberang ke pulau tersebut.
Di perahu, awalnya saya ingin duduk paling depan, namun didahului Adit. Tak apalah, saya duduk di tengah. Kami mendokumentasikan momen sepanjang perjalanan baik dalam foto maupun video. Sekitar 20 menit, akhirnya kami sampai di Pulau Nusakambangan. Di pintu masuk, kami membayar tiket masuk seharga Rp. 3.500 per orang. Lalu kami mengelilingi Nusakambangan ditemani pengemudi perahu motor yang kami tumpangi. Dia menjelaskan banyak hal tentang pulau tersebut. Awalnya aku berpikir bahwa Nusakambangan yang kami kunjungi adalah tempat penjahat kelas kakap dipenjara, namun aku salah. Ternyata penjara tersebut berada di lokasi yang berbeda.
Sepanjang perjalanan aku sangat menikmati suasana asri pulau tersebut. Di kanan kiri jalan, banyak terdapat pohon rotan. Jujur, aku baru pertama kali melihat pohon rotan. Sebelumnya, aku hanya melihat rotan yang sudah berbentuk barang kerajinan. Sekitar 20 menit berjalan, kami tiba di pintu Benteng Belanda. Kami menyempatkan untuk berfoto.
Di benteng tersebut banyak terdapat ruangan untuk memenjarakan pribumi lengkap dengan ruangan komandan dan aula. Di salah satu sisi benteng terdapat semacam tebing curam buatan dengan tinggi sekitar 15 meter. Di dasar tebing tersebut terdapat banyak batu. Konon, dahulu tebing itu adalah tempat pembantaian pribumi yang dianggap membangkang dengan cara melemparnya dari atas tebing.
Di dalam benteng, aku merasakan aroma mistis yang begitu kuat. Gelap, dingin, sunyi. Untuk menyusuri bagian dalam benteng, kami menggunakan lampu senter dari telepon seluler milik Afri. Sisa-sisa sesajen bekas “persembahan” sesekali terlihat di pojok-pojok ruangan.
Setelah puas menyusuri benteng, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Karang Pandan, yakni pantai batu karang berpasir putih. Di tengah perjalanan, kami melihat sebuah meriam Belanda yang tak terurus. Ternyata besi-besi meriam tersebut dipotong oleh penduduk untuk dijual. Sangat disayangkan, padahal meriam tersebut adalah peninggalan sejarah yang sangat berharga.
| Meriam peninggalan Belanda di Nusakambangan |
Sekitar pukul 14.30 WIB kami kembali tempat asal karena perahu yang kami tumpangi sudah menunggu untuk menyeberang kembali ke Teluk Penyu. Kali ini aku yang duduk di depan menjadi kapten kapal. Adit mendokumentasikan tingkahku yang berlagak bak nahkoda. Selang 20 menit, akhirnya kami merapat kembali di Teluk Penyu. Karena lelah, kami beristirahat sejenak sambil menyantap siomay di tepi pantai, satu porsinya Rp. 5 ribu. Sambil makan siomay, kami berbincang dengan seorang bapak yang duduk di depan kami. Ternyata bapak itu dahulu tinggal di Jakarta sebelum dipindahtugaskan ke Cilacap. Bapak itu banyak bercerita tentang pengalamannya, termasuk soal anaknya yang ternyata alumni Universitas Jayabaya di Jakarta Timur yang turut serta dalam aksi demonstrasi tahun 1998. Anaknya itu juga pernah menetap di Bandung sebagai tim manajemen grup band Peterpan. Usai makan, kami pun pamit kepada bapak tersebut. Anaknya menyerahkan sebuah CD demo band proyek Reza “Peterpan” kepada kami sebagai kenang-kenangan. Namanya “Orange Band”.
Sekitar pukul 16.00 WIB, mobil kami berangkat. Tujuan kami selanjutnya adalah rumah Bu’ De-nya Afri. Selang 30 menit, kami tiba di rumahnya. Hanya ada Bu’ De, sedangkan Pak De-nya masih bekerja di sawah. Di sana kami mengumpulkan tenaga untuk perjalanan pulang dan juga men-charge kembali daya baterai telepon seluler kami yang sudah lowbat. Kami disuguhi teh manis serta bakwan dan tahu goreng. Aku tak mau menyia-nyiakan waktu dengan hanya duduk-duduk. Aku melangkah ke belakang rumah tersebut yang ternyata masih asri. Sumur timba masih digunakan sebagai sumber air. Sumur itu tidak dalam, permukaan airnya hanya sekitar 3 meter dari bibir sumur. Aku berkesimpulan, persediaan air tanah di daerah tersebut masih melimpah. Aku pun meminta Afri untuk memotretku ketika sedang menimba air. Ini momen langka, pikirku.
Saat hendak pamit pulang, ternyata Bu’ De sedang merebus mie instan untuk kami. Akhirnya kami pun mengisi perut terlebih dahulu. Usai makan, kami berangkat menuju Bandung untuk mengantar Reza pulang ke rumah kosnya.
Kami kembali melewati jalur selatan pulau Jawa. Sekitar pukul 19.30 WIB kami melewati perbatasan Provinsi Jawa Tengah dengan Jawa Barat. Pukul 21.00, kami berhenti di salah satu masjid di Ciamis untuk shalat terlebih dahulu. Usai shalat kami langsung tancap gas lagi.
Pukul 23.00 WIB kami memasuki Kota Bandung. Karena kami suntuk dengan suasana hutan yang kami lewati sepanjang perjalanan, kami memutuskan untuk berkeliling kota terlebih dahulu sebelum ke rumah kos Reza. Kami sekedar ingin melihat kehidupan malam Kota Kembang. Tujuan kami malam itu adalah sekitar Jl. Braga dan Saritem. Bagi yang pernah merasakan pergaulan Bandung pasti tahu pula kedua tempat tersebut. Ya, kedua tempat itu adalah pusat “gemerlap” kota dengan macam-macam wanita penghiburnya. Mulai dari ABG hingga paruh baya.
Jl. Braga adalah sebuah jalan dengan nuansa tempo dulu, bangunan-bangunannya hampir mirip dengan yang terdapat di kawasan Kota Tua di Jakarta. Di sana banyak terdapat klab malam. Sedangkan Saritem adalah daerah lokalisasi di Bandung. Di Saritem, konon kita bisa memilih wanita yang kita inginkan dengan bantuan guide.
Malam itu, baik di Braga maupun di Saritem kami tidak turun dari mobil. Kami hanya melihat-lihat keadaan di sana saja sambil sesekali tertawa kecil ketika melihat wanita-wanita penghibur tersebut. Di salah satu sisi jalan dekat Pasar Baru Bandung, kami melihat seorang wanita ABG berwajah oriental. Memang cantik menurutku. Reza hendak turun untuk sekadar “menawar”, namun ia mengurungkan niat. Kami pun tertawa.
Puas berkeliling kota, perut kami kerocongan. Sekitar pukul 24.00 WIB, kami berhenti di Cafe Madtari. Salah satu tempat hangout anak muda Bandung. Kami memilih menu mie rebus + kornet. Harganya Rp. 8 ribu. Menurutku kornet yang disajikan cukup banyak, hingga melewati bibir mangkok. Usai makan, kami langsung menuju rumah kos Reza untuk beristirahat. Sesampainya di sana, kami langsung terlelap di keheningan malam Kota Kembang.
HARI KELIMA
Selasa (1/2/2011) – Pagi itu Reza langsung bersiap-siap ke kantor. Ia sedang Praktik Kerja Lapangan di PT. Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) bagian marketing. Pukul 07.00 WIB, Reza berangkat. Aku dan Afri mengantar Adit menyelesaikan beberapa urusan di kampusnya. Usai menyelesaikan urusannya, Adit mengajak kami makan pancake di Jl. Gegerkalong samping Pondok Pesantren Daarut Tauhid yang diasuh K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa’ Gym).
Usai makan kue, kami bertiga shalat dzuhur di masjid UPI. Beberapa saat kemudian, Reza mengirim pesan singkat bahwa ia sudah pulang kantor. Saat itu juga kami langsung meluncur ke rumah kos Reza guna menjemputnya. Saat kami sampai, Reza belum tiba. Namun, tak lama kemudian ia datang membawa gehu untuk kami. Gehu adalah tahu goreng yang diisi dengan tauge, di Jakarta namanya tahu isi. Rasanya pedas asin. Enak. Kata Reza, harganya Rp. 1.500 per buah.
Reza langsung mengganti pakaiannya, lalu kami berangkat ke Lembang untuk sekadar menghirup udara segar. Tujuan pertama kami adalah Boscha, tempat peneropongan bintang milik Institut Teknologi Bandung (ITB). Karena saat itu hari Rabu, kami bertiga tidak bisa masuk ke dalam. Sebab, Senin-Jumat khusus pengunjung rombongan, Sabtu-Minggu baru lah pengunjung perorangan. Untuk mengobati kekecewaan, kami berfoto di sekitar komplek Boscha.
| Komplek Boscha, Lembang |
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah gunung batu di Lembang. Adit yang latar belakang pendidikannya geografi menjelaskan, gunung tersebut merupakan sebuah patahan bumi. Patahan tersebut berpotensi menjadi pusat gempa apabila ada pergerakan lempeng bumi. Kami mendaki hingga ke puncak gunung tersebut. Setelah puas menikmati pemandangan dari puncak gunung, kami pun turun menuju mobil untuk bergegas kembali ke rumah kos Reza. Sebelum meluncur ke rumak kos, Adit berhenti sejenak di Pasar Lembang untuk membeli susu sapi murni yang telah disterilisasi. Per liternya Rp. 3.600. Adit membeli dua liter. Usai membeli susu, kami pun langsung bergerak pulang.
| Gunung Batu, Lembang |
Sesampainya di rumah kos, kami pun beristirahat sambil menikmati kesegaran susu murni. Aku meminum tiga gelas besar. Hmmmmm, rasanya lezat sekali.
Pukul 18.30 WIB, kami kembali mengantar Adit ke kampusnya untuk menghadiri pembubaran panitia sebuah acara mahasiswa pecinta alam UPI. Sekedar informasi, Adit adalah presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) jurusan geografi UPI periode semester gasal 2010-2011. Saat Adit menghadiri acara, kami menunggu di mobil. Saat itu hujan mengguyur Kota Bandung, kami pun tertidur di mobil menikmati damainya aroma hujan.
Tepat jam delapan malam, Adit membangunkan kami. Ia telah selesai menghadiri acara. Kemudian aku minta diantarkan ke Cihampelas guna membeli kaos untuk adik dan pacarku. Aku membeli dua kaos dengan ukuran, model, gambar dan warna yang sama. Ukuran M dengan warna dasar putih dan tulisan merah hitam. Per buahnya Rp. 20 ribu.
Usai aku membeli kaos, kami menuju ke Cafe Madtari lagi untuk mengisi perut. Di tengah perjalanan, saat lampu merah, ada seorang waria yang mengamen. Aku pun memberi uang receh kepadanya. Namun, tak kusangka ketika aku menyodorkan tangan keluar jendela mobil, tanganku ditarik dan dielus-elus olehnya sambil menggodaku. Sontak teman-temanku tertawa terbahak-bahak. Tak lama kemudian kami sampai di Cafe. Lagi-lagi kami makan malam dengan menu mie rebus + kornet. Usai makan, kami langsung menuju rumah kos Reza untuk beristirahat.
HARI KEENAM
Rabu (2/2/2011) – Pagi itu kami semua bersiap-siap. Reza bersiap-siap untuk ke kantor sedangkan aku, Afri dan Adit bersiap-siap untuk kembali ke Cibinong. Adit ikut pulang ke Cibinong sebab kuliahnya belum aktif. Ia masih ada keperluan untuk mengurus pajak sepeda motornya di Cibinong. Pukul 07.00 WIB, Reza berangkat ke kantor. Ia berpamitan dan berpesan kepada kami untuk meletakkan kunci kamarnya di salah satu sepatunya yang ia letakkan di depan kamar bila kami berangkat.
Jam delapan, kami berangkat dari rumah kos Reza menuju rumah pamannya Adit di daerah Soekarno-Hatta Bandung. Di rumah pamannya itulah Adit tinggal. Sedangkan di Cibinong adalah rumah bibinya yang lain. Adit meminta saran kepada pamannya dalam mengurus pajak sepeda motornya yang mengalami masalah. Biasa, masalah birokrasi. Kebetulan pamannya Adit adalah ketua Rukun Tetangga (RT) di lingkungannya. Setelah itu, kami langsung berpamitan untuk kembali ke kota tercinta, Cibinong.
Kami kembali melewati tol Cipularang. Sekitar jam 12 siang kami sampai di Cibinong. Adit dan Afri mengantarku terlebih dahulu. Mereka berdua beristirahat hingga tertidur. Pukul 19.00 WIB mereka pulang ke rumah masing-masing.
Nuansa abadi tanah Jawa. Pengalaman indah yang takkan kulupa. Pesonamu memancarkan sejuta makna bagi siapa yang mau merenungi, alam indah anugerah Yang Maha Kuasa.
Hidayatul Fajri
21 Februari 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar