Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

KALA

Ada kalanya ketika November benar-benar menjadi dingin
Ada kalanya ketika waktu terasa melambat
Ada kalanya ketika tetes hujan sejuk membasahi jiwa

Ada kalanya ketika aroma daun basah menyerbak hingga ke sukma
Ada kalanya ketika rerumputan kembali menghijau
Ada kalanya ketika semua terasa mendamaikan

Ada kalanya kamu terasa begitu dekat, tapi begitu jauh
Ada kalanya cinta begitu memikat, tapi begitu menyiksa
Ada kalanya rasa terasa sempurna, tapi juga banyak kurangnya

Ada kalanya kita cukup mengerti, pejamkan mata dan berhenti
Lalu katakan pada hati, "cukup syukuri!"

HF
Selasa, 17 November 2015

Kita pada Suatu Waktu

Lembayung senja membawa Sang Raja kembali ke peraduannya
Aku duduk di tepi tebing sembari memandang ujung samudera
Sepi, sendiri, menepi

Kau datang menawarkan tawa
Membawa senyum tulus yang hilang dari bibirku sejak lama

Candamu, polos tawamu membuat duniaku kembali berwarna
Aku tak tahu, semua ini apa namanya
Dan memang tak perlu tahu kurasa

Waktu tak pernah berjalan mundur
Bukan soal seberapa sering kita berjumpa,
tapi seberapa sering kita membekukannya
Dan akan selalu melekat dalam kepala

Hidup cuma sekali
Jalani yang membuatmu bahagia sebelum mati
Aku akan tetap menjadi aku
Bisa saja menjadi kita pada suatu waktu

Lepaskanlah,
Biarlah Tuhan kita yang melabuhkan segalanya
Bukankah kapal yang berlayar di lautan juga karena kuasa-Nya?


Bogor, 22 November 2014
Hidayatul Fajri

Selatan Jakarta Selepas Hujan

Kali ini aku berbicara lebih banyak padanya. Lebih dalam
Ada yang berbeda
Kulihat sisa hujan masih bergelayut mesra di dahan cemara
Tenang, begitu nyaman di hati
Tak seperti yang mereka bilang
Aku memahami lebih dalam
Tentang hidup yang hanya berbicara soal perpindahan, dari satu ke lain masa, dari satu ke lain peran
Dari aku menjadi kami
Tuhan sungguh anggun, mencipta hujan bersama angin
Membawa kedamaian melebihi batas kata
Selatan Jakarta selepas hujan
Aroma daun basah masuk jauh ke dalam kepala
Damai, seperti bidadari memeluk jiwa

03 Desember 2014
Hidayatul Fajri

Suatu Malam di Surya Kencana

Sekali lagi,
gemintang menunjukkan atraksinya

Cuma di sini,
di Surya Kencana

Kerlip lampu dari setiap tenda,
menambah hangat suasana

di sini,
cuma ada cinta

Terdengar canda tawa
Lepas,
nyaris tanpa dusta

Nyala tungku api,
saksi kemesraan kita

Bersama sahabat
Merajut kasih, menjalin cinta

di sini,
di Surya Kencana


HIDAYATUL FAJRI
Lembah Surya Kencana, Gunung Gede
Sabtu, 6 April 2014
Pukul 04:33 WIB

Senja di Surya Kencana

Senja,
Kabut tipis mulai turun di Lembah Surya Kencana
Lembah para bidadari

Apa kabar wanitaku?
Engkau yang sekian lama mengisi rongga dadaku

Apa kabar kebahagiaan itu?
Sudahkah dapat kau ambil lagi?

Gede menunjukkan keangkuhannya
Kala aku merengkuhnya di suatu senja
Merona

Tapi sekali lagi
Ia menunjukkan pesonanya
Ketika kukecup pucuk edelweis putihnya

Pangrango selalu menggoda
Membujukku ke pelukannya
Aku tak mau
Dia pernah disebut orang

Aku cuma mau engkau
Bersamaku di Surya Kencana pada suatu senja
Mereguk cinta
Berdua


HIDAYATUL FAJRI
Lembah Surya Kencana, Gunung Gede
Sabtu, 5 April 2014
Pukul 16:54 WIB

Pesan Cinta untuk Calon Bidadariku

Untuk kau yang tersungkur mesra di atas sajadah,

Aku yakin, bukan harta yang kau inginkan.
Aku juga yakin, bukan tahta yang kau harapkan.
Apalagi pangkat dan jabatan yang bisa menghilang dalam sekejap dari pandangan.
Karenanya, bukan itu semua yang ku cari, Sayangku!

Kau yakin, bukan hanya kecantikan yang aku inginkan.
Kau juga yakin, bukan cuma keturunan mulia yang kuharapkan.
Karenanya aku yakin, di sepertiga malam kau basahi mukenamu dengan airmata.

Sayangku, mungkin saat ini aku belum pernah melihat wajah cantikmu.
Tapi percayalah, Tuhan telah menentukan waktu yang tepat.
Ya, waktu yang tepat saat kau mencium tanganku, dan aku mencium keningmu.
Saat itu pula kasih kita dipayungi jutaan malaikat dengan senyum simpul di sudut bibirnya.

Cintaku, aku tak peduli apapun pekerjaanmu,
selama kau tetap berjalan di atas titah Tuhanmu.

Wahai calon ibu dari anak-anakku,
kumohon tetaplah pada pendirianmu.
Jaga apa yang seharusnya kau jaga,
hingga nanti Tuhan mempertemukan kita.

Cantik,
maukah kau kuberitahu jalan termudah menuju surga?
Bekalilah dirimu dengan ilmu untuk selalu menemaniku kelak.

"Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai." (HR. Ahmad 1/191)

Saat itu,
kau selalu merapihkan kerah kemejaku setiap pagi.
Tak lupa kau simpulkan senyum tipis di ujung bibirmu.
Air hangat selalu kau siapkan untuk melemaskan otot-ototku selepas kerja seharian.
Maka nikmat mana lagi yang pantas aku dustakan?

Bidadariku,
aku bisa merasakan degup jantungmu.
Kau pasti begitu gugup menungguku.
Aku pun begitu.

Jangan risau sayang,
pasti Tuhan mempertemukan kita.
Pada saat-saat terindah yang membuat kita tak mampu membendung air mata.
Aku begitu merindukanmu cinta, bahkan saat kita belum bertemu mata.

Kita begitu dekat,
tapi begitu terjaga.
Genggamlah tanganku, 
mari kita berjalan menuju kebahagiaan abadi.
Aku janji!

Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS al-Fajr [89]: 27-30).



HIDAYATUL FAJRI
Jakarta, 12 November 2013