Dahsyatnya Aksi Damai 411

Indonesia adalah negara dengan jumlah pemeluk Islam terbanyak di dunia. Selain Islam, di Indonesia juga diakui secara resmi beberapa agama lainnya; Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Di samping itu, Indonesia juga memiliki ratusan suku, ras dan etnis yang berbeda. Dengan kondisi tersebut, sudah barang tentu diperlukan adanya sikap toleransi yang tinggi untuk tetap bisa hidup berdampingan dengan damai.

Sikap toleransi tersebut juga diatur dalam perundang-undangan di Indonesia. Tujuannya jelas, jika ada pihak-pihak yang mencoba mencederai perdamaian agar segera dilakukan proses hukum dengan seadil-adilnya. Sudah seyogyanya pula aturan ini ditaati oleh semua lapisan bangsa dan ditegakkan sebaik-baiknya.

Pernyataan saya di atas terkait dengan dugaan penistaan al-Qur’an yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di  depan warga Kepulauan Seribu pada 27 September 2016. Sementara, ia beragama Kristen. Dalam pernyataannya, Ahok menyitir Surah al-Maidah ayat 51 yang kemudian memancing ketersinggungan umat Islam karena dianggap sudah melewati batas. Sebagai informasi, kandungan surat al-Maidah ayat 51 berisi tentang larangan bagi umat Islam untuk memilih pemimpin non muslim.

Polemik tersebut berujung pada diadakannya “Aksi Bela Islam” pada 14 Oktober  2016 yang dikomandoi oleh Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab. Aksi yang diikuti oleh sekitar lima ribu umat Islam itu menuntut agar Ahok diproses hukum karena sudah menistakan ayat suci al-Qur’an. Diawali dengan sholat Jumat di Masjid Istiqlal, massa kemudian bergerak menuju Bareskrim Mabes Polri dan Balaikota DKI Jakarta. Aksi ini menuai pro dan kontra di masyarakat karena sebelumnya Ahok sudah menyempaikan permohonan maaf.

Sejak aksi tersebut, bukannya polemik mereda justru semakin memanas. Hal itu disebabkan pemerintah dan Polri dianggap kurang serius menanggapi tuntutan “Aksi Bela Islam”. Dengan demikian, para ulama merencanakan “Aksi Bela Islam II” yang dijadwalkan pada 4 November 2016 dengan jumlah massa yang jauh lebih besar, termasuk dari berbagai daerah di Indonesia. Banyak yang menebak bahwa aksi ini akan ditunggangi oleh kepentingan politik. Namun, alasan utamanya adalah umat Islam yang menuntut keadilan atas dugaan penistaan kitab sucinya.

Banyak sekali informasi mengenai aksi tersebut yang masuk ke ponsel saya. Baik melalui pesan berantai di Whatsapp Messenger, Blackberry Messenger, ataupun artikel di Facebook dan Instagram. Saya termasuk orang yang sangat selektif terhadap demonstrasi. Waktu kuliah dulu pun cuma ikut beberapa saja. Tapi, sungguh aksi damai 411 (baca: empat November) sangat menarik perhatian saya.

Dengan sedikit pemahaman agama yang saya miliki, jika ada orang bersalah meminta maaf maka sebaiknya kita maafkan, pun tidak masalah kalaupun tidak. Tapi, dibalik pemberian maaf atas “kekhilafan” Ahok, saya memandang bahwa hukum atas perkara ini harus ditegakkan. Tujuannya jelas, agar Bhinneka Tunggal Ika tak ternodai. Proses hukum adalah bukti negara serius melawan pihak-pihak yang berpotensi memecah belah bangsa. Akhirnya saya berkeputusan untuk turun langsung pada aksi damai 411.

Dalam memandang aksi tersebut, bagi saya tak ada pertimbangan lain selain untuk membela kesucian al-Quran dan penegakan hukum. Mengenai pilgub DKI, saya tak memiliki kepentingan karena saya bukan warga DKI. Paling saya cuma mengingatkan kawan-kawan muslim yang berdomisili DKI terkait kewajiban memilih pemimpin muslim. Kenapa? Karena Allah SWT telah melarang dalam al-Qur'an yang seharusnya menjadi pedoman setiap muslim. Sudah, itu saja alasannya. Bagaimana kalau tetap memilih yang non-muslim? Simpel saja, berarti dia bukanlah muslim yang taat. Karena sudah melanggar hukum, pasti ada hukumannya entah di dunia atau di akhirat.

Soal pilihan kawan-kawan non muslim, saya dan muslim manapun tidak bisa masuk ke ranah tersebut. Alasannya jelas, mereka pun mempunyai hak untuk memilih berdasarkan kriterianya. Indonesia itu negara demokrasi. Dalam konsep demokrasi, siapa saja boleh menjadi pemimpin. Siapapun, beragama apapun, berprofesi apapun, dari suku manapun. Boleh. Kenapa begitu? Ya karena kita tinggal di Indonesia dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Keharmonisan ini harus tetap terjaga sebagai cita-cita besar Bangsa Indonesia.
Jadi, yang perlu digarisbawahi adalah umat muslim tidak boleh melarang non-muslim ikut dalam kontes politik, karena itu jelas bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Hanya saja, sebagai muslim tidak diperkenankan memilih pemimpin non-muslim. Bagi para penganut agama lain silakan saja, tidak menjadi persoalan.

Jumat,  4 November 2016

Setelah mengajukan cuti dadakan Kamis malam, ba’da shubuh saya sudah mempersiapkan segala sesuatu yang akan saya pakai dan bawa ke aksi damai. Sekitar jam 8 pagi, Fajar, teman SMA saya, datang ke rumah. Kami memang sudah janjian untuk datang bersama ke aksi tersebut. Tak lama kemudian kami berangkat.

Suasana di Stasiun Depok
Kami menuju titik kumpul di Istiqlal menggunakan Kereta Commuter Line dari Stasiun Depok. Saat kami tiba di stasiun, sudah banyak peserta aksi lain yang juga akan berangkat. Sekitar jam 09:30 WIB, kami tiba di Stasiun Juanda. Suasananya sungguh luar biasa. Area stasiun, jalan-jalan serta Masjid Istiqlal sudah dipenuhi oleh peserta aksi dari berbagai daerah. Karena saya masih menunggu seorang teman yang juga mau ikut, maka kami tidak langsung beranjak dari stasiun.

Para peserta aksi memenuhi gerbong Kereta Commuter Line
Tak lama kemudian, datang Ghofur, temannya Fajar yang juga mau bergabung. Tapi sampai pukul 11 siang, teman saya tak juga muncul sementara ponselnya tak bisa dihubungi. Dengan terpaksa kami berinisiatif untuk masuk ke Istiqlal untuk sholat Jumat. Rencananya saya akan coba kontak lagi usai sholat.

Siang itu Istiqlal yang konon merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara sudah tak mampu menampung jumlah jamaah yang begitu banyak. Tapi kami mencoba untuk tetap masuk. Akhirnya kami hanya bisa sholat di pelataran lantai dua. Siang itu jalan-jalan di sekitar Istiqlal jadi masjid dadakan bagi massa yang tidak kebagian tempat di dalam area masjid.

Usai sholat, Ustadz Bachtiar Nasir selaku penanggung jawab aksi menyampaikan aturan dan rute aksi. Kemudian setelah itu Habib Rizieq Syihab mencontohkan mars “Aksi Bela Islam II” yang akan diteriakkan sepanjang long march. Takbir menggema berkali-kali di langit-langit Istiqlal. Bulu kuduk merinding dibuatnya, mata memerah menahan ghiroh agama yang meletup-letup. Usai mencontohkan mars, Habib Rizieq meminta jamaah keluar masjid dengan tertib melalui pintu al-Fatah. Walaupun cenderung tertib, tetap saja antrean keluar masjid tak bisa dihindari karena membludaknya jumlah jamaah. Saya yang sudah mulai kehabisan napas mengajak Fajar dan Ghofur keluar dari antrean. Kami memilih makan siang dulu di pelataran pintu keluar.

Suasana di dalam Masjid Istiqlal usai sholat Jum'at
Usai makan, kami memilih keluar dari pintu lain untuk menghindari antrean. Selanjutnya kami menyusuri jalan di sisi depan Istiqlal untuk kemudian bergabung dengan rombongan di depan Kantor Pertamina. Suasana saat itu begitu padat. Untungnya cuaca sangat bersahabat, tidak terik tidak hujan. Setelah tiba di depan Balaikota DKI di Jalan Medan Merdeka Selatan, keadaan sudah mulai longgar karena jalan yang luas. Saat itu sudah masuk waktu ashar, saya langsung menuju Jalan Medan Merdeka Barat tempat orasi utama dilakukan.

Kondisi Jalan Medan Merdeka Barat sudah disesaki oleh para peserta aksi yang ingin mendekat ke mobil komando tempat dilakukannya orasi oleh para tokoh. Karena ingin mendengarkan orasi, kami terus mendekat menuju titik kumpul. Penuh perjuangan tentunya. Kami harus merangsek di tengah kerumunan massa. Sampai akhirnya kami sudah tidak bisa bergerak lagi pada jarak sekitar 50 meter dari mobil komando.

Satu persatu tokoh menyampaikan orasinya. Ada Habib Rizieq Syihab tentunya, Fachri Hamzah, Fadli Zon, Rhoma Irama, Lily Wahid, Ratna Sarumpaet hingga Ahmad Dhani. Sementara perwakilan aksi yang masuk ke istana dipimpin oleh Ustad Bachtiar Nasir. Saya sempat merasa panggung orasi tersebut bernuansa politik, tapi saya langsung meluruskan niat hanya untuk membela al-Qur’an dan menegakkan keadilan. Sekitar pukul 16:30 WIB, dikabarkan bahwa Presiden Jokowi tidak berada di istana dan akan digantikan oleh Wakil Presiden untuk menemui perwakilan aksi. Sontak massa menolak dan bersikukuh untuk ditemui oleh Presiden. Akhirnya, kembali terjadi negosiasi. Saat itu juga beberapa kali terjadi gesekan antara aparat dengan orang-orang yang terprovokasi. Hasilnya, beberapa provokator berhasil diamankan Laskar FPI dan diserahkan ke pihak kepolisian.

Para peserta aksi antusias mendengarkan orasi
Karena belum sholat ashar, saya mengajak Fajar dan Ghofur untuk mundur dan keluar dari kerumunan. Melihat kepadatan saat ini, rasanya agak mustahil untuk mundur. Tapi tiba-tiba dari belakang kami ada serombongan orang yang meminta untuk dibukakan jalan. Rupanya mereka adalah pengawal Rhoma Irama. Jadilah kami mengikuti rombongan tersebut hingga akhirnya bisa keluar dengan mudah. Kami sholat ashar di dekat Patung Kuda, Silang Monas.

Kiri: Ghofur, Kanan: Fajar
Sekitar pukul 17:00 WIB, kami memutuskan untuk pulang. Walaupun aksi sebenarnya belum selesai, kami mendoakan agar ada solusi terbaik dari pemerintah. Mayoritas peserta aksi juga membubarkan diri sebelum magrib. Di simpang monas, saya melihat beberapa polisi yang sedang membagikan air minum kepada peserta aksi. Setelah menerima air minum, saya mohon izin untuk berfoto dan mereka menyambutnya dengan ramah. Pemandangan yang sangat indah, saat aparat benar-benar menyatu dengan rakyat. Usai sholat maghrib dan mengisi perut yang kosong, kami pulang.

Berfoto dengan aparat kepolisian
Alhamdulillah saya dan Fajar mendapatkan tempat duduk di kereta. Pasalnya kaki kami sudah sangat pegal. Hehe. Saat di kereta, kami mendengar berita bahwa aksi diwarnai kericuhan selepas isya. Belum jelas penyebabnya. Saya berdoa agar tidak ada peserta aksi dan aparat yang menjadi korban. Sekitar pukul 21:30 WIB saya tiba di rumah.

Hari itu saya jadi bagian dari aksi yang bersejarah. Aksi dengan massa terbesar sejak era reformasi. Aksi yang digerakkan langsung oleh Sang Pemilik Hati kepada hamba-hambanya yang rela mati demi membela agama Ilahi. Semoga bangsa dan negara ini selalu dilindungi dari kaum-kaum yang zalim. Amin ya Robbal ‘alamin.


Tidak ada komentar: